RINGKASAN
Aslim Anwar, L 111 98
024. Tingkat Kematian Karang Keras (Scleractinia)
Akibat Predator Bulu Seribu (Acanthaster
planci) di Kepulauan Spermonde Makassar. (di bawah bimbingan Dr. Ir.
Jamaluddin Jompa, M.Sc sebagai Ketua dan Syafyuddin Yusuf, ST, M.Si sebagai
Anggota)
Acanthaster
planci dalam batasan
populasi yang normal merupakan hal yang umum di dalam ekosistem terumbu karang
dan memangsa polip atau bagian lunak dari karang batu (corralivore) yang menyebabkan kematian koloni karang batu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerusakan terumbu
karang akibat serangan Acanthaster planci
di kepulauan Spermonde dengan membatasi kajian pada pengamatan kepadatan
populasi dan ukuran koloni dari Acanthaster
planci, jumlah dan luas koloni karang yang dimangsa oleh Acanthaster planci, serta kondisi
terumbu karang sekitar. Metode yang
digunakan adalah LIT (Line Intersect
Transeck) untuk melihat life form
dari karang sedangkan dalam analisanya digunakan formula dari English (1994),
Cox (1967), Indeks Dispersi Morisita.
Sedangkan hubungan antara jumlah populasi biota bulu seribu dengan
luasan karang mati akibat predasi bulu seribu digunakan metode regresi linear
dan gambaran distribusi bulu seribu terhadap kondisi terumbu karang dan
preferensi makanannya digunakan metode CA (Correspondence
Anayisis).
Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa Pulau
Bone Batang memiliki kepadatan rata-rata populasi bulu seribu yang paling
tinggi dibandingkan Pulau Barrang Lompo dan Pulau Barrang Caddi, luasan karang
mati akibat predasi bulu seribu lebih besar ditemukan di Pulau Bone Batang
dibandingkan Pulau Barrang Lompo dan Pulau Barrang Caddi, fase Juvenile dari bulu seribu lebih menyukai
hidup pada habitat dengan tutupan karang hidup lebih 30 %. Sedangkan fase Adult dari bulu seribu cenderung
terdistribusi pada habitat dengan tutupan karang hidup berkisar 20 – 30 %,
selanjutnya fase Senile Adult dari bulu seribu tampak
terdistribusi pada habitat dengan tutupan karang hidup berkisar 10 – 20 %.
Kata Kunci: Acanthaster
planci, Terumbu Karang, Kepulauan Spermonde.
1. Alasan
Pemilihan Abstrak
Dalam keseharian saya sendiri lebih banyak menghabiskan waktu di secret
kami tercinta MSDC-UH yang merupakan simbol kebanggaan anak kelautan Unhas.
Kebetulan kami di MSDC yang bermarkas di Lt. 2 Jasbog ini, memiliki beberapa
koleksi Skripsi senior baik dalam bentuk hard copy maupun soft copy. Oleh
karenanya ketimbang harus meminjam di perpustakaan fakultas yang dibatasi waktu
peminjamannya, saya lebih memilih untuk mengambil Abstrak ini, meskipun topik
yang disajikan tidak se lugas koleksi skripsi perpustakaan fakultas.
Secara keilmuan, Bulu seribu (Acanthaster
planci) merupakan salah satu hewan
pemangsa polip karang. Acanthaster
planci yang mengalami peningkatan jumlah secara drastis akan
berubah menjelma menjadi factor
pendorong mortalitas karang.
Hal ini telah menjadi wacana yang hangat di bicarakan baik itu oleh
kalangan peneliti, pemerhati karang, maupun surveyer karang itu sendiri yang
kerap menjumpai Acanthaster
planci di lapangan. Acanthaster
planci telah menjelma menjadi sosok penghambat pertumbuhan
karang dunia.Tak
terkecuali di daerah Indonesia terkhusus Idonesia bagian timur, penyebaran Acanthaster planci pun sangat pesat.
Hal ini disebabkan karena proses reproduksi Acanthaster
planci yang begitu cepat.
2. Urgensi
Peneletian Terkait
Penelitian
ini selain sebagai bahan pembelajaran untuk mempelajari fenomena yang terjadi
di lapangan terkait ekosistem terumbu karang, penelitian ini jg dapat membantu
proses monitoring kelestarian terumbu karang tiap tahunnya. Berbicara masalah
monitoring, memang telah ada dilaksanakan kegiatan monitoring tahunan baik itu
oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga pemerhati lingkungan. Namun tidak
menutup kemungkinan hasil yang lebih maksimal dan validasi data yang lebih
tinggi akan kita dapat melalui pemantauan terpusat pada satu faktor pendorong.
Dalam hal ini Acanthaster
planci yang menjadi faktor pendorong
mortalitas karang.
3. Analisis
Kelanjutan Penelitian Terkait
Menilik dari urgensi topic yang diangkat dalam
penelitian ini, dipadukan dengan wacana yang hangat diperbincngkan sekarang
terkait masalah kerusakan karang akibat peningkatan populasi Acanthaster planci secara
drastis. Maka dipandang sangat bisa dan perlu
untuk melanjutkan penelitian ini. Dengan kata lain dalam lingkup area
pemantauan yang lebih luas. Selain sebagai sebuah penelitian, permasalahan ini
dapat pula diangkat atau diusulkan menjadi program pemerintah, yakni pemantauan
kerusakan terumbu karang akibat blooming Acanthaster
planci.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar